Bahagia itu
maknawi juga bersifat rohaniah, rasa senang bukan bahagia sekalipun ia berharta
kerna semua itu bersifat lahiriah ia bukanlah hakikat bahagia, tenang (sakinah) itulah
tanda bahagia, tiada tenang kan keluh kesah, bila tiada kebahagiaan hidup penuh
kepuraan.


Dari titisan air mata kita belajar mengerti, dari rasa kehilangan kita belajar menghargai, dari rasa bersalah kita belajar memafi, dari sebuah harapan kita belajar berusaha, dari sebuah usaha kita belajar redho meredhoi, dari sebuah redho kita belajar ketulusan,
dari sebuah ketulusan kita belajar mengenali, dari sebuah pengenalan kita belajar memahami, dari sebuah pemahaman kita belajar muwafakat (kerjasama), dari sebuah muwafakat kita belajar membina diri, keluarga dan masyarakat.
Hakikat bahagia lahirnya dari
ketulusan jiwa berteraskan niat (nawaitu) dari awal kita melangkah, bila ada
ikhlas maka hadirnya sabar redho dan tawakkal.
Lumrah hidup inginkan semua kan menjadi miliknya kerna ia menyangka semua yang ia miliki itu adanya bahagia, jika tiada redho kerna terlalu mengharap akhirnya kecundang
menimpa diri bila ujian tiba menguji jiwa.
Carilah tenang dapatkan bahagia, lahirkan rasa syukur, jadikan
diri bersifat berlapang dada (salamatun sadrin), bila itulah yang diamalkan
maka lahirlah ta’awun menjadi penawarnya, menjadikan kita insan yang luhur di wajah pasti terukir sebuah senyuman indah lahirnya dari hati yang benar tulus.
Bismillahirahmanirrahim...

Salam senyuman untuk semua.....
"rehatkan minda, senyum dan zikir"....